Friday, February 2, 2007

Republika Online : http://www.republika.co.id

Rambu Pembaruan Islam Oleh :
Arif Munandar RiswantoAlumnus Universitas Al Azhar Mesir dan Aktivis Muda PERSIS
Beberapa hari ini, harian Republika diwarnai dengan polemik sengit tentang wacana pembaruan Islam. Terlebih lagi, sebagaimana ditulis oleh Adian Husaini, dimulai oleh pidato Cak Nur pada tanggal 3 Januari 1973, tren pembaruan pemikiran Indonesia telah memasuki usia yang ke 37 tahun. Meskipun sebenarnya secara jujur, pembaruan Islam telah ada semenjak Islam lahir ke muka bumi ini. Dengan demikian, Cak Nur bukanlah orang pertama yang melakukan pembaruan-jika memang dia layak disebut sebagai seorang pembaru.
Wacana pembaruan Islam pun bukan wacana baru, tetapi "wacana tua". Ia ada seiring dengan kelahiran Islam. Dimulai dari masa Nabi, Khulafaur-rasyidin, para imam mujtahid, hingga sampai saat ini. Bahkan, terkait dengan tema ini, Imam Suyuthi menulis sebuah buku yang sangat bernilai, "Ar-Radd 'ala Man Akhlada Al-Ardh wa Jahula anna Al-Ijtihad Fardh." Bahkan, sebagaimana dikutip oleh Al-Munawi dalam "Faidh Al-Qadhir" (2/282) As-Suyuthi membuat nuzhum tentang orang-orang yang disebut pembaru, mulai dari Umar bin Abdil Aziz hingga masa dia.
Hal pertama yang harus kita pahami adalah, bahwa pembaruan Islam merupakan kewajiban yang diajarkan agama dan kebutuhan yang diperlukan realitas. Disebut kewajiban agama karena secara langsung Rasulullah sendiri telah mengajarkan bahwa pembaruan di dalam Islam itu ada dan disyariatkan. Ini berangkat dari hadis yang diterima Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al Hakim, Al Khathib Al Baghdadi, "Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini setiap seratus tahun sekali orang yang memperbarui agamanya."
Pembaruan menjadi kebutuhan realitas karena sekarang umat Islam sedang menghadapi problematika baru yang sama sekali berbeda dengan zaman dulu. Sekarang muncul teori, falsafah, dan inovasi baru yang tidak pernah terjadi di zaman dulu. Umat Islam memerlukan jawaban syariat terhadap masalah tersebut. Untuk menjawab segala problematika yang baru itulah Rasulullah mensyariatkan pembaruan. Karena, jika tidak begitu, umat Islam akan menjadi umat rigid dan terbelakang.
Rambu-rambuNamun, hal yang harus diperhatikan adalah rambu-rambu pembaruan tersebut. Karena, dalam hal ini, kita sering melihat kekeliruan. Banyak cendekiawan Muslim yang masih 'kebingungan' untuk melakukan pembaruan. Hal yang seharusnya mereka perbarui justru dipertahankan, dan hal yang seharusnya tidak perbarui justru diperbarui. Tidak semua pembaruan harus mengubah yang lama untuk diganti yang baru. Karena, begitu banyak hal lama tetapi bernilai, dan begitu banyak hal yang baru tetapi penuh madharat. Pada hakikatnya, lama dan baru adalah dua hal relatif. Lama sekarang adalah baru dahulu dan baru sekarang adalah lama di esok hari.
Pembaruan Islam erat kaitannya dengan ijtihad. Namun, ijtihad di dalam Islam tidak seperti tradisi berpikir sekuler Barat yang bebas untuk berpikir apa saja. Mengutip Yusuf Qaradhawi dalam Min Ajl Shahwah Ar Rasyidha (Manshurah: 1995), ijtihad juga pembaruan dalam Islam hanya berlaku dalam dua hal. Pertama, permasalahan yang tidak ada teksnya dan sengaja tidak dijelaskan oleh agama. Agama tidak menjelaskan permasalahan tersebut karena tidak ingin menyusahkan dan ingin memberikan rahmat kepada manusia. Seperti dijelaskan dalam ilmu ushul fiqh, permasalahan ini bisa dijawab dengan qiyas, mashlahah mursalah, istihsan, istishhab, dan sebagainya. Hal ini dilakukan agar seorang mujtahid bisa mencurahkan kemampuannya untuk menjawab segala persoalan sesuai maksud-maksud syariat yang global.
Kedua, teks yang zhanni (terbuka untuk ditafsirkan) Kebanyakan teks adalah zhanni. Karena zhanni, teks seperti ini elastis dan sangat membuka peluang bagi dijalankannya ijtihad. Inilah yang mengakibatkan lahirnya produk-produk pemikiran yang berbeda dari satu mazhab dengan mazhab lain. Untuk kedua teks tersebut, ulama membuat kaidah bahwa fatwa bisa berubah seiring perubahan waktu, tempat, dan tradisi.
Namun, di antara kedua hal tersebut ada teks qath'i (gamblang). Teks qath'i tersebut menerangkan tentang jumlah, kadar, kuantitas, tata cara, waktu, dan tempat dengan rinci. Teks rinci seperti ini biasanya dijelaskan oleh teks qath'i tsubut dan qath'i dalalah serta diamalkan oleh umat Islam selama 14 abad. Teks seperti ini bisa kita lihat dari ayat waris, nikah, hudud, riba, khamr, zina, ibadah, rukun iman, rukun Islam, dan prinsip-prinsip universal ajaran Islam.
Selain untuk menjaga persatuan umat Islam di seluruh dunia --dengan berbagai mazhab yang dipeluk oleh umat Islam-- dan menjaga agama dari upaya inovasi baru (bid'ah), teks ini juga bertujuan untuk menjaga identitas umat Islam untuk tidak leleh kepada identitas umat lain. Untuk itulah, bagi teks seperti ini, ulama membuat sebuah kaidah bahwa Islam selalu adaptatif bagi seluruh waktu dan tempat. Teks statis seperti ini tidak bisa diubah, diperbarui, dan bukan tempat ijtihad. Tidak boleh ada seorang mujtahid, ulama, ahli fikih, pemikir, cendekiawan, dan lembaga fatwa yang mengubah teks jenis ini.
Membidik teks qath'iSayang sekali, selama ini pembaruan sering dibidikkan kepada teks qath'i, seperti yang jelas terlihat dari gerakan liberalisasi nilai-nilai Islam. Shalat bilingual, imam perempuan dalam shalat, zina, persamaan waris anak laki-laki dan perempuan, perubahan waktu haji, dan lain-lain menjadi dibolehkan. Sedangkan poligami, hijab, dan sebagainya. diharamkan. Alquran mushaf Utsmani pun diragukan keabsahannnya.
Padahal, hal yang telah ditegaskan oleh Nabi adalah, bahwa umat Islam dijamin untuk tidak akan membuat konsensus unviersal (ijma') dalam melakukan kesesatan bersama. Ini artinya, umat Islam tidak sedang tersesat ketika selama 14 abad membaca mushaf Utsmani, membedakan warisan anak laki-laki dan anak perempuan, melarang shalat bilingual, perempuan menjadi imam shalat, zina, khamr, dan sebagainya. Islam telah melewati berbagai konteks satu lembah peradaban ke lembah peradaban lain. Namun, teks qath'i ini tetap bertahan --tidak diubah dan diperbarui-- seperti pada awal diturunkannya.
Pembaruan di dalam Islam tidak boleh mengubah yang qath'i menjadi zhanni, muhkamat menjadi mutasyabihat, yang mapan menjadi elastis, dan juga sebaliknya. Namun, yang qath'i harus tetap qath'i, zhanni tetapi zhanni, muhkamat tetap muhkamat, dan mutasyabihat tetap mutasyabihat. Jika qath'i diubah menjadi zhanni, umat Islam akan menjadi umat yang tidak memiliki akar identitas. Dan, jika yang zhanni diubah menjadi qath'i, umat Islam akan menjadi umat rigid dan terbelakang.
Dengan rambu-rambu inilah, pembaruan Islam bisa dilakukan dengan baik. Kita bisa menimbang 'produk-produk impor' umat lain dengan adil, dan umat Islam akan menjadi umat yang maju, persis seperti tujuan yang diharapkan dari pembaruan itu sendiri ini. Wallahu'alam.
Ikhtisar- Pembaruan dalam Islam adalah menjadi kewajiban agama sekaligus tuntutan realitas.- Namun demikian, pembaruan harus dilakukan dengan memperhatikan rambu-rambunya.- Pembaruan dalam Islam erat kaitannya dengan ijtihad yang menurut Yusuf Qaradhawi hanya bisa dilakukan untuk dua hal, yakni permasalahan yang tidak ada teksnya, serta teks yang maknanya masih terbuka.- Teks Islam yang sudah jelas-jelas gamblang makna dan tafsirannya, tidak perlu diperbarui lagi.
Republika Online : http://www.republika.co.id

0 Comments: